Selaindi Nganjuk, beberapa dari mereka juga pergi ke bukit Tengger di kawasan Bromo, Semeru dan lereng Gunung Wilis. Selama perjalanan mensyiarkan Islam di Kabupaten Nganjuk, Kanjeng Jimat menggunakan pendekatan Hindu-Budha dengan memadukan budaya Islam. Pendekatan yang dilakukan oleh Kanjeng Jimat berbuah manis, alhasil cukup banyak umat 0% found this document useful 0 votes431 views18 pagesCopyright© Attribution Non-Commercial BY-NCAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes431 views18 pagesSejarah Nganjuk Sejarah Nganjuk Tahun 1811 Sejarah pemerintahan Kabupaten Pace sangat sulit diungkapkanKarena kurangnya data yang dapat menjelaskan keberadaannya. Demikian pula halnya denganmata rantai hubungan antara kabupaten pace dengan Kabupaten Berbek. Sehubungan denganhal tersebut maka pembahasan tentang sejarah pemerintahan Kabupaten Nganjuk dimulai darikeberadaan Kabupaten Berbek Berdasarkan peta Jawa Tengah dan Jawa Timur pada permulaan tahun 1811 yang terdapatdalam buku tulisan Peter Carey yang b erjudul ‖Orang jawa dan masyarakat Cina 1755 - 1825‖, penerbit pustaka Azet, Jakarta,1986;diperoleh gambaran yang agak jelas tentang daerah Nganjuk. Apabila dicermati peta tersebut, ternyata daerah Nganjuk terbagi dalam 4daerah, yaitu Berbek, Godean dan Kertosono. Dengan catatan, bahwa Berbek, Godean,Nganjuk dan Kertosono merupakan daerah yang dikuasai Belanda dan KasultananYogyakarta, sedangkan daerah Nganjuk merupakan mancanegara Kasunanan SurakartaTimbul pertanyaan, apakah keempat daerah tersebut mempunyai status sebagai daerahkabupaten yang dipimpin oleh seorang bupati Raden Tumenggung atau berstatus lain? Darisilsilah keturunan raja negeri bima, silsilah Ngarso Dalem Sampean Dalem ingkang SinuwunKanjeng Sulatan Hamengkubuwono1 atau asal usul Raden Tumenggung SosrodiningratBupati Nayoko Wedono Lebet Gedong Tengen Rajekwesi dapat diperoleh kesimpulan bahwamemang benar daerah-daerah tersebut pada waktu itu merupakan daerah kabupaten. Adapunpenguasa daerah Berbek dan Godean dapat dijelaskan sebagai berikut1. Raja bima mempunyai seoarang putra, yaitu Haji Datuk Sulaeman, yang menikah denganputri Kyai Wiroyudo dan berputra empat orang yaitu Nyai Sontoyudo, Nyai Honggoyudo, Kyai Derpoyudo, Nyai Damis Nyai Honggoyudo berputraRaden Ayu Rongso Sepuh, Raden Ayu Tumenggung Sosronegoro, Raden Ngabei Kertoprojo,Mas Ajeng Raden Tumenggung Sosronegoro I, Bupati Grobongan, mempunyai putra sebanyak 30orang, antara lain Raden Tumenggung Sosrodiningrat I putra I, Reden Tumenggung Sosrokoesoemo I putraVII, Raden Tumenggung Sosrodirjo putra ke XXIII.4. Raden Tumenggung Sosrokoesoemo I adalah Bupati Berbek sebelum pecah dengan Godean Berputra sebanyak 19sembilan belas orang ,antara lain RMT Sosronegoro IIputra ke-2 dan RT. Sosrokoesoemo II putra ke-11.Menurut pengamatan penulis, ketika RT Sosrokoesoemo I meninggal dunia, telah digantikanadiknya, yakni RT Sosrodirdjo sebagai Bupati Berbek. Setelah itu Berbek di pecah menjadidua daerah, yaitu Berbek dan Godean. RT Sosrodirdjo tetap memimpin daerah Berbek,sedangkan Godean dipimpin oleh keponakannya yaitu RMT Sosronegoro II putra kedua dariRT Sosrokoesoemo I. Selanjutnya, menurut perkiraan, setelah kedua bupati tersebut pensiun,Kabupaten Berbek yang dipimpin oleh RT Sosrokoesoemo II Putra ke-11 I.Tentang Kabupaten Nganjuk dan Kertosono belum dapat diungkapkan lebih jauh, karenadalam perkembangan selanjutnya kedua daerah tersebut bergabung manjadi satu dengandaerah Berbek, yang diperkirakan terjadi sebelum tahun 1852. Adapun bupati Nganjuk sekitartahun 1830 adalah RT Brotodikoro, sedangkan bupati Kertosono adalah RT Soemodipoero. Tahun 1830 Perjanjian SeprehPada tanggal 3 juli 1830 atau tanggal 12 bulan suro tahun 1758, telah diadakan suatupertemuan di Pendopo Sepreh oleh Raad Van Indie Mr. Pieter Markus, Ridder Van de OrdeVan de Nederlandsche leeuw, Commisaris ter Regelling de Vorstenlanden untuk mengaturdaerah-daerah mancanegara kesunanan Surakarta atau kesultanan Yogyakarta, sebagai tindak lanjut dari persetujuan antara Neterlandsch Gouverment dengan yang mulia saat itu akanditempatkan dibawah pengawasan dan kekuasan Nederlandsch Gouverment. Keesokan harinya, pertemuan tersebut telah menghasilkan ―Perjanjian Sepreh Tahun 1830‖ yang ditandatangani dengan teraan-teraan cap dan bermaterai oleh 23 Bupati dari residensikediri dan residensi Madiun, dengan disaksikan oleh Raad Van Indie, Komisaris yangmengurus daerah-daerah kraton serta tuan-tuan Van Lawick Van Pabst dan de Solis,residen Rembang. Berdasarkan persetujuan tersebut mulai saat itu Nederlandsch Gouvermentmelaksanakan pengawasan tertinggi dan menguasai daerah-daerah dicermati, ternyata salah satu dari 23 Bupati yang telah ikut menandatanganiperjanjian tersebut adalah raden Tumenggung Brotodikoro, regency van Ngandjoek. Mengapademikian hal itu dapat dijelaskan sebagai berikutBahwa yang mengikuti pertemuan di Pendopo Sepreh hanyalah bupati-bupati mancanegara dari Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta, sedangkan bupati Berbek dan bupatiKertosono, sebagaimana diuraikan dimuka, adalah merupakan bupati dari daerah-daerah yangtelah dikuasai dan mulai tunduk dibawah pemerintah belanda jauh uraian tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sejak adanya Perjanjian Sepreh1830, atau tepatnya tanggal 4 juli1830, maka semua kabupaten di Nganjuk Berbek,Kertosono dan Nganjuk tunduk dibawah kekuasaan dan pengawasan Setelah Perjajian SeprehPada tanggal 31 Agustus 1830, atau hampir dau bulan setelah Perjanjian Sepreh, pemerintahanHindia Belanda mengadakan penataan-penataan / pengaturan-pengaturan atas kabupaten-kabupaten yang telah berada dibawah pengwaasan dan kekuasaanya. Tentang penataan inidapat dilihat dalam surat pemerintahan Hindia Belanda Semarang, 31 Agustus1830, yang berisikan tentang hasil konferensi dari Gubernur Jendral dengan komisaris-komisaris yang mengurus / mengatur daerah-daerah hasil konferensi tersebut, kemudian keluar satu keputusan tetang rencana dari PemerintahHindia Belanda, yang antara lain menerangkan bahwaPertama Menentukan bahwa daerah mancanegara bagian timur akan terdiri dari duaresidensi, yaitu Residensi Kediri dan Residensi Bahwa Residensi Madiun akan terdiri dari kabupaten-kabupaten Kedirie, Kertosono,Ngandjoek, Berbek, Ngrowo dan Kalangbret. Dan selanjutnya dari Distrik-distrik Blitar,Trenggalek, Kampak dan yang lebih timur sampai dengan batas-batas dari Malang, baik batasdari kabupaten-kabupaten maupun distrik juga akan diatur Bahwa Residensi Kediri akan terdiri dari kabupaten-kabupaten Kedirie, Kertosono,Ngandjoek, Berbek, Ngrowo dan Kalangbret. Dan selanjutnya dari Distrik-distrik Blitar,Trenggalek, Kampak dan yang lebih ke Timur sampai dengan batas-batas dari Malang, baik batas dari Kabupaten-kabupaten maupun Distrik-distrik juga akan diatur realisasinya, pada kurun waktu empat bulan kemudian ditetapkanlah Resolusi No 10Tanggal 31 Desember 1830, yang berisikan tentang pelaksanaan dari Skep. Tanggal 31Agustus 1830 tersebut di lebih jelasnya dapat dilihat dalam isi Resolusi tersebut, khususnya pada bagiankeempat, yang antara lain berbunyi sebagai berikut Keempat juga sangat disayangkan, dari Skep, tanggal 31 Agustus Y1. La. No 1 terpaksadisetujui diperkuat dua Residensi dalam kabupaten-kabupaten.
KeretaKanjeng Nyai Jimat dibuat di Belanda antara tahun 1740-1750. Baca juga: Kisah Ratu Belanda Juliana Bersahabat dengan Sultan Hamengkubuwono IX, Satu Kampus di Leiden. Berdasar catatan yang ada, Kereta Kanjeng Nyai Jimat merupakan hadiah dari Gubernur Jenderal VOC Jacob Mussel (1750-1761) kepada Sri Sultan Hamengku Buwono I, setelah
Sejarah Nganjuk Berbek,Cikal Bakal Kabupaten Nganjuk anjeng Raden Toemenggoeng Sosrokoesoemo I Dalam uraian berikut ini lebih banyak menjelaskan tentang 3. Baca Akte Komisaris Daerah-daerah Keraton yang telah diambil alih oleh Residensi Kediri, yang ditandatangani di Semarang oleh Van Lawick Van Pabst. Dalam akte kolektif ini juga ditetapkan personalia pejabat-pejabat Kabupaten yang lain, seperti Patih, Mantrie, Jaksa, Mantri Wedono / Kepala Distrik, mantri Res dan Penghoeloe. Perjalanan sejarah keberadaan Kabupaten Berbek “cikal bakal” Kabupaten Nganjuka sekarang ini. Dikatakan “cikal bakal” karena ternyata kemudian bahwa alur Sejarah Kabupaten Nganjuk adalah berangkat dari keberadaan KabupatenBerbek dibawah kepemimpinnan Radeen Toemenggoeng Sosrokoesoemo 1. Kapan tepatnya daerah Berbek mulai menjadi suatu daerah yang berstatus kabupaten, kiranya masih sulit diungkapkan. Namun dari silsilah keluarga dan catatan”Peninggalan Kepurbakalaan Kabupaten Nganjuk” tulisan Drs. Subandi, dapat diketahui bahwa bupati Berbek yang pertama adalah KRT. Sosrokoesoemo 1 terkenal dangan sebutan Kanjeng Jimat. Pada masa pemerintahanya dapat diselesaikan sebuah bangunan masjid yang bercorak hinduistis yang bernama masjid yoni Al Mubaarok. Terdapat sinengkalan huruf arab berbahasa jawa yang berbunyi Bagian depan Ratu Pandito Tata Terus 1759 Bagian Bawah Ratu Nitih Buto Murti1758 Kanan/kiri Ratu Pandito Tata Terus 1759 Belakang Ratu Pandito Tata Terus 1759 Kanjeng Raden Toemenggoeng Sosrodirdjo Setelah KRT Sosrokoesoemo meninggal dunia tahun 1760 Leno Sarosa Pandito Iku, sebagai penggantinya adalah Kanjeng Raden Toemenggoeng Sosrodirdjo. Mendekati tahun 1811, Kabupaen Berbek pecah menjadi 2dua, yaitu Kabupaten Berbek dan Kabupaten Godean. Sebagai bupati Godean adalah Raden Mas Toemenggoeng Sosronegoro II. Kanjeng Radeen Toemenggoeng Sosrokoesoemo II Dalam perkembangan selanjutnya, sebagai tindak lanjut adalah perjanjian sepreh tahun 1830, yaitu adanya rencana penataan kembali daerah-daerah dibawah pengawasan dan kekuasaan Nederlandsch Gouverment,dengan SK 31 agustus 1830, ditetapkan bahwa Kabupaten Godean dinyatakan dicabut dan selanjutnya digabung dangan Kabupaten Berbek yang terdekat. Dengan akte Komisaris daerah-daerah Keraton yang telah diambil alih dan ditandatangani oleh Van Lawick Van Pabst tanggal 16 juni 1831 di Semarang, ditunjuk sebagai bupati Berbek adalah Kanjeng Radeen Toemenggoeng Sosrokoesoemo II. Dari akte tersebut dapat diketahui bahwa Godean telah berubah statusnya menjadi Distri Godean, yang bersama-sama dengan distrik Siwalan dan distrik Berbek menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Berbek. Raden Ngabehi Pringgodikdo KRT Sosrokoesoemo II1830-1852meninggal dunia tanggal 27 agustus 1852 karena menderita sakit ditunjuk sebagai penggantinya adalah Raden Ngabehi Pringgodikdo, patih dari luar Kabupaten Ngrowo, yang bukan termasuk garis keturunan / keluarga dari II. Pilihan jatuh pada Pringodikdo ini karena putra-putra dari II Bupati yang telah meninggal dianggap kurang mampu unuk menduduki jabatan bupati tersebut Sedangkan Pringgodikdo dinilai lebih cakap dan berbudi pekerti yang baik, selain itu mempunyai pengalaman yang cukup daripada calon-calon lain yang diusulkan, sehingga dianggap mampu dan pantas untuk menggantikan KRT. Sosrokoesoemo II almarhum. Pengangkatan Pringgodikdo sebagai bupati yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Gubernur Jendral Nederlandsch India di Batavia, tanggal 25 November 1852. selanjutnya, apabila disimak dari isi surat residen Kedirie yang pertama, tanggal 20 September 1852 tetang pertimbangan-pertimbangan terhadap Pringgodikdo untuk diangkat menjadi Bupati Berbek adalah sebagai berikut “Kabupaten Berbek penting sekali, juga sangat luas, yang meliuti delapan distrik diwilayahnya, dan berbatasan dangan residen Madiun, Soerabaja, rembang, sehingga Policie disana seharusnya waspada…” Menurut “Akte Komisaris daerah-daerah Kraton yang telah diambil alih “tanggal 16 Juni1831, bahwa dikabupaten Berbek terdapat 3tiga distrik, Kabupaten Nganjuk ada 2dua distrik dan Kabupaten Kertosono ada 3tiga distrik, sehingga jumlah keseluruhan ada 8delapan distrik, sama dengan yang disebutkan dalam SK di atas. Hal ini berarti sebelum II meninggal, telah terjadi suatu proses penghapusan Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Kertosono yang meliputi distrik-distrik Berbek, Goden, Siwalan asli dari Kabupaten Berbek, Ngandjoek, Gemenggeng berasal dari Kabupaten Ngandjoek, Kertosono, Waroe Djajeng, Lengkong berasal dari Kabupaten Ketosono. Raden Ngabehi Soemowilojo Raden Ngabehi Pringgodikdo menjabat sebagai bupati Berbek lebih kurang 14 tahun, yaitu sampai dengan tahun 1866. setelah mangkat digantikan oleh Raden Ngabehi Soemowilojo, patih pada kadipaten Blitar dengan SK Gubernur Jendral Nederlandsch Indie tanggal 3 September 1866 No. 10. selanjutnya dengan SK Gubernur Jendral Nederlandsch Indie tanggal 21 oktober 1866 dia diberi gelar toemenggoeng dan diijimkan manamakan diri Raden Ngabehi Soemowilojo. Radeen Toemenggoeng Sosrokoesoemo III Raden Ngabehi Soemowilojo meninggal dunia tanggal 22 februari 1878. Untuk menduduki jabatan Bupati Berbek yang kosong tersebut telah diangkat Raden Mas Sosrokoesoemo III, Wedono dari Nederlandsch Indie tanggal 10 april 1878 menjadi Bupati Berbek. Bersama dengan itu diberikan totle jabatan Toemenggoeng dan diijinkan menuliskan namanya Radeen Toemenggoeng Sosrokoesoemo. Pada masa pemerintahan Radeen Toemenggoeng Sosrokoesoemo III inilah terjadi suatu peristiwa yang amat penting bagi perjalanan sejarah pemerintahan di Nganjuk hingga sekarang ini. Peristiwa tersebut adalah adanya kepindahan tempat pusat pemerintahan dari kota Berbek menuju kota Nganjuk. Mengenai hal boyongan ini akan diuraikan nanti. Raden Mas Toemenggoeng Sosro Hadikoesoemo Pada tanggal 28 September 1900, RM. Adipati Sosrokoesoemo III karena menderita sakit yang terus menerus sehingga terpaksa memberanikan diri mengajukan permohonan kepada Gubernur Jendral Nederlansch Indie untuk diberhentikan dengan hormat dari jabatan Negara dengan diberikan hak pensiun. Dan selanjutnya, memohon agar karirnya putra laki-laki tertuanya Raden Mas Sosro Hadikoesoemo menggantikan jabatan sebagai Regent Bupati Berbek. Berdasarkan Besluit Gubernur Jendral nederlansch Indie tanggal 2 Maret 1901 No 10, Pemerintahan Hindia Belanda memberhentiakan Adipati Sosrokoesoemo dan selanjutnya mengangkat redden Mas Sosro Hadikoesoemo sebagai Regent Bupati Berbek dan memberinya gelar Toemenggoeng dan mengijinkan menamakan dan menuliskanRaden MAs Toemenggoeng Sosro Hadi Koesoemo. Satu hal penting yang perlu dipehatikan pada masa jabatan RMT. Sosro Hadi Koesoemo ini adalah mulai digunakan sebutan Regentschap Kabupaten Nganjuk, yang pada waktu-waktu sebelumnya masih di sebut Afdelling Berbek Kabupaten Berbek. Tentang hal ini dapat dilihat pada Regeering Almanak 1852-19420. Arti Lambang Kabupaten Nganjuk Inilah gambar lambang Kabupaten Nganjuk Logo Kabupaten Nganjuk Lambang Daerah terdiri atas 4 bagian, yaitu Dasar Lambang Bagian atas, berisi gambar bintang bersudut 5 Bagian tengah dan samping berisi gambar-gambar sebagai berikut * Pita bertuliskan BASWARA YUDHIA KARANA * Rantai berbentuk lingkaran * Gunung dan air terjun * Sawah dan sungai * Padi dan kapas * Pohon beringin dalam segilima beraturan * Sayap Bagian bawah berisi Pita bertuliskan angka JAWA Pita bertuliskan NGANJUK Makna Gambar dalam Lambang Kabupaten Nganjuk Perisai bersudut lima berdasar biru dan bertepi putih melambangkan jiwa kerakyatan, kesetiaan dan kesucian masyarakat Nganjukyang selalu siaga dalam menghadapi segala tantangan. Bintang bersudut lima berwarna emas melambangkan Ketuhanan Yang Maha Esa, cita-cita luhur dan suci sebagai pedoman perjuangan untuk mewujudkan cita-cita masyarakat adil dan makmur. BASWARA YUDHIA KARANA artinya cemerlang karena perjuangan. Rantai berbentuk lingkaran melambangkan kebulatan tekad rakyat Nganjuk, yang dilandasi semangat perjuangan dan persatuan. Tiga puncak gunung berwarna hitam memiliki arti filosofis Tri Dharma Amerta dan secara historis menunjukkan Jaman Kejayaan Nasional, Jaman Penjajahan dan Jaman Kemerdekaan. Gunung, malambangkan sumber kekayaan alam air terjun sedudo adalah air suci pemberian Tuhan Yang Maha Esa, yang merupakan rahmat untuk dinikmati oleh umat-Nya. Sawah mengandung makna kemakmuran, dan sungai juga bermakna kemakmuran dan kesuburan. Gunung berpuncak tiga, sawah dan sungai digambarkan dalam rantai yang berbentuk lingkaran, itu mempunyai makna Dengan tekad yang bulat dan kekayaan alam yang melimpah memberikan keyakinan kepada masyarakat Nganjuk untuk berjuang mewujudkan tercapainya masyarakat adil dan makmur. Padi dan kapas melambangkan pangan dan sandang yang menjadi kebutuhan pokok rakyat sehari-hari. Jumlah padi 17 butir, kapas 8 buah, daun padi 4 helai, daun kapas 5 helai mencerminkan semangat dan jiwa proklamasi 17-8-45. Pohon beringin berdaun lima kelompok dalam segi lima beraturan bermakna pengayoman, perlindungan dan perdamaian, serta juga menggambarkan adanya lima wilayah kerja pembantu bupati. Sayap dengan 20 helai bulu berwarna emas melambangkan wilayah daerah terdiri dari 20 kecamatan. Pita bertuliska angka Jawa yang mengikat dua pangkal sayap mewujudkan angka 937 M, yang merupakan ditetapkannya tahun hari jadi Nganjuk. Secara keseluruhan, lambang daerah ini mengandung makna sebagai berikut Dengan semangat dan jiwa proklamasi 17-8-45 rakyat Nganjuk yang telah tumbuh dan berkembang sejak tahun 937 M, bersama Pemerintah Daerah yang berwibawa bertekad bulat untuk berjuang terus dengan segala potensi daerahnya, sehingga tercapai cita-cita luhur, masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Daftar Nama kecamatan di Kabupaten Nganjuk 1. Kecamatan Bagor 2. Kecamatan Baron 3. Kecamatan Berbek 4. Kecamatan Gondang 5. Kecamatan Jatikalen 6. Kecamatan Kertosono 7. Kecamatan Lengkong 8. Kecamatan Loceret 9. Kecamatan Nganjuk 10. Kecamatan Ngetos 11. Kecamatan Ngluyu 12. Kecamatan Ngronggot 13. Kecamatan Pace 14. Kecamatan Patianrowo 15. Kecamatan Prambon 16. Kecamatan Rejoso 17. Kecamatan Sawahan 18. Kecamatan Sukomoro 19. Kecamatan Tanjunganom 20. Kecamatan Wilangan Dari Kecamatan diatas dibagi menjadi 4 kawasan yaitu 1. Kawasan Utara Anjuk Ladang 2. Eks Kadipaten Berbek & Godean 3. Daerah Kertosono Tengah Waroedjajeng
Kamimohon bantuan terutama dari sesama keturunan R.M Tafsiruddin II bin R.M. Moh. Santri, jikalau ada yg memiliki daftar silsilah lengkap yg yg ada nama R. Abdul Alim yg menikah dg Ny. Eyang Kanjeng Jimat wafat 1760-an Nganjuk 3. Kebenaran antara Kyai Arfiyah kakaknya Nyai Fathurrahman atau anaknya (Butuh penelitian LBH akurat
SILSILAH KETURUNAN SUNAN BONANGSilsilah yang menghubungkan Sunan Bonang dan Nabi MuhammadSunan Bonang Makdum Ibrahim binSunan Ampel Raden Rahmat Sayyid Ahmad Rahmatillah binMaulana Malik Ibrahim binSyekh Jumadil Qubro Jamaluddin Akbar Khan binAhmad Jalaludin Khan binAbdullah Khan binAbdul Malik Al-Muhajir dari Nasrabad,India binAlawi Ammil Faqih dari Hadramaut binMuhammad Sohib Mirbath dari Hadramaut binAli Kholi' Qosam binAlawi Ats-Tsani binMuhammad Sohibus Saumi'ah binAlawi Awwal binUbaidullah binMuhammad SyahrilAli Zainal 'Abidin binHussain binAli bin Abi Thalib dari Fatimah az-Zahra binti Muhammad SAWKETURUNAN SUNAN BONANGSunan Bonang Raden Mahdum Ibrohim menikah dengan Dewi Hirah putrinya Raden Jakandar memiliki satu orang putri bernama Dewi Ruhil, dan mempunyai 2 orang putra namun belum jelas nama ibunya yaitu Dewi Ruhil Jayeng Katon Jayeng RonoMaaf kalau salah itu udah paling singkat tauuu JELASKAN SECARA SINGKAT BOLEH GAK KAK SILSILAH KETURUNAN SUNAN BONANGSilsilah yang menghubungkan Sunan Bonang dan Nabi Muhammad• Sunan Bonang Makdum Ibrahim bin• Sunan Ampel Raden Rahmat • Sayyid Ahmad Rahmatillah bin• Maulana Malik Ibrahim bin• Syekh Jumadil Qubro Jamaluddin Akbar Khan bin• Ahmad Jalaludin Khan bin• Abdullah Khan bin• Abdul Malik Al-Muhajir dari Nasrabad,India bin• Alawi Ammil Faqih dari Hadramaut bin• Muhammad Sohib Mirbath dari Hadramaut bin• Ali Kholi' Qosam bin• Alawi Ats-Tsani bin• Muhammad Sohibus Saumi'ah bin• Alawi Awwal bin• Ubaidullah bin• Muhammad Syahril• Ali Zainal 'Abidin bin• Hussain bin• Ali bin Abi Thalib dari Fatimah az-Zahra binti Muhammad SAWSEMOGA MEMBANTU, TOLONG JADIKAN JWBAN TERBAIK..THX

SilsilahRaja Raja di Jawa. Silsilah Raja Raja di Jawa. Jul 17th 1. Trah Keturunan Kyai Abdul Jalal I ( Pendiri Perdikan Kalioso ) Trah Keturunan Kyai Abdul Jalal I ( Pendiri Perdikan Kalioso ) Jul 16th 34. Foto Foto Kusrahadi & Keluarga, Leluhur Ageng, Makam Leluhur. Mar 9th. Trah Tumurun Sri Sunan Pakubuwono III.

Personnalités politiques asiatiques et reste du monde Née Kim JONG-UN Dirigeant suprême de la Corée du Nord Née le Dimanche 8 janvier 1984 à Pyongyang , Corée du Nord 39 ans Son arbre généalogique Signaler une erreur Ce formulaire vous permet de signaler une erreur ou un complément à la généalogie suivante Kim JONG-UN 1984 Plus d'informations Kim Jong-un, né le 8 janvier 1984 à Pyongyang, est un homme d'État nord-coréen, actuel dirigeant suprême de la Corée du Nord où il occupe les postes de président du Parti du travail de Corée, de commandant suprême de l'Armée populaire de Corée et de président de la Commission des affaires de l'État. Successeur de son père Kim Jong-il qui lui-même avait succédé à son père Kim Il-sung, il est le troisième représentant de la lignée du mont Paektu. ... Kim Jong-un, né le 8 janvier 1984 à Pyongyang, est un homme d'État nord-coréen, actuel dirigeant suprême de la Corée du Nord où il occupe les postes de président du Parti du travail de Corée, de commandant suprême de l'Armée populaire de Corée et de président de la Commission des affaires de l'État. Successeur de son père Kim Jong-il qui lui-même avait succédé à son père Kim Il-sung, il est le troisième représentant de la lignée du mont Paektu. © Copyright auteurs de Wikipédia - Cet article est sous licence CC BY-SA Origines géographiques La carte ci-dessous indique les communes d'origine des ancêtres de la personnalité. Chargement en cours... Une erreur est survenue lors du chargement de la carte. Ils cousinent avec... Signaler mon cousinage Connexion à votre compte Geneanet ×
Silsilahkeluarga Anies Baswedan, garis keturunan, genealogy, kerabat, saudara, hubungan keluarga dari Anies Baswedan H. Anies Rasyid Baswedan, S.E., M.P.P., Ph.D., adalah seorang akademisi pendidikan dan juga politikus Indonesia yang menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta untuk periode 2017 hingga 2022.[1] Anies Baswedan adalah cucu
- Pusaka Tombak Naga Guntur kembali mengawal dan mengiringi prosesi boyong Pemerintahan Kabupaten Nganjuk dari wilayah Kecamatan Berbek. Terakhir kali, Pusaka Tombak Naga Guntur mengawal dan mengiringi prosesi boyong Pemerintahan Kabupaten Nganjuk pada zaman penjajahan Belanda. Perawat sekaligus Penjaga Pusaga Tombak Naga Guntur, Aris Trio Effendi menjelaskan, tidak banyak yang mengetahui dan mengerti kehadiran Pusaka Tombak Naga Guntur dalam prosesi boyong perpindahan Pemerintahan Kabupaten Nganjuk pada tanggal 6 Juni. Ini dikarenakan prosesi boyong Pemerintahan sebelumnya digelar setiap tanggal 10 April bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Nganjuk. Tanggal itu dikenal bukan sebagai tanggal Boyongan Pemkab Nganjuk. Oleh karena itu, Pusaka Tombak Naga Guntur tidak pernah dikeluarkan dan mengawal prosesi boyong Pemerintahan Kabupaten Nganjuk. "Dengan sudah kembali dilakukannya prosesi boyong tanggal 6 Juni dan itu sesuai dengan data sejarah boyong Pemerintahan Kabupaten Nganjuk yang benar, maka kami keluarkan dan bawa Pusaka Tombak Naga Guntur untuk mengawal prosesi boyong tersebut," kata Aries Trio Effendi, pemilik dan perawat Pusaka Tombak Naga Guntur yang juga memiliki gelar Keraton Surakarta, Raden Tumenggung Aris Puro Budoyo tersebut, kemarin. Pusaka Tombak Naga Guntur sendiri merupakan pusaka peninggalan lelulur Kabupaten Nganjuk pada zaman penjajahan Belanda. Pusaka Tombak Naga Guntur tersebut milik salah satu kerabat Kanjeng Jimat atau Bupati Pertama Kabupaten Nganjuk yang biasanya digunakan untuk berperang menghancurkan musuh pada zaman tersebut. Pusaka Tombak Naga Guntur yang kini dirawat dan disimpan oleh Aris Trio Efendi tersebut jarang dikeluarkan dari tempat penyimpanannya. "Pusaka Tombak Naga Guntur itu peninggalan canggah saya yang masih kerabat Kanjeng Jimat atau Bupati Nganjuk pertama. Memang tidak semua boleh membawa Pusaka Tombak tersebut karena dikhawatirkan ada risiko bagi pembawanya kalau bukan kerabat Kanjeng Jimat," ucap Aris Trio Effendi yang juga juru kunci Candi Ngetos tersebut. Dalam membawa Pusaka Tombak Naga Guntur untuk dibawa kirab Prosesi boyong Pemerintahan Nganjuk, persyaratan yang harus dipenuhi cukup berat. Yakni Pusaka Tombak tersebut harus diiringi oleh para kerabat silsilah para Bupati yang pernah memerintah Kabupaten Nganjuk. Baik itu Bupati Nganjuk pertama yakni KRT Sosrokoesoemo I, Sosrokoesoemo III, Sosrohadikoesoemo, Notodikoro, Bupati Pace, dan lainnya. Para kerabat dengan dibuktikan silsilah resmi keraton Yogyakarta, keraton Surakarta, dan Mangkunegaran mengikuti kirab prosesi boyong dengan berbaris dibelakang Pusaka Tombang Naga Guntur yang dibawa sendiri oleh Aris Trio Effendi. Barisan tersebut tidak boleh dicampur melainkan harus berkelompok sesuai silsilah masing-masing dari Bupati Nganjuk terdahulu. "Mengumpulkan silsilah kerabat Bupati Nganjuk itu yang cukup berat dan harus kami lakukan untuk memenuhi syarat dibawanya Pusaka Tombak Naga Guntur dalam prosesi boyong Pemerintahan Nganjuk," tandas Aris Trio Effendi. ahmad amru muiz/ editor eben haezer
Kamisengaja tidak menguraikan keturunan dari putra/putri Kyai Muhammad Besari yang lain. Setelah berhasi meredam pembrontakan di Singosari, Malang. Kyai Mohammad Bin Umar membuka lahan yang kelak dinamakan Banjarsari ( Baca kisah awal :Dari Sebuah Tanah Perdikan ). Dari sinilah beliau mulai meretas keberadaan desa Banjarsari dan mempunyai

SEJARAH ISLAM DI KABUPATEN NGANJUK PADA MASA KANJENG JIMAT Sejarah keberadaan Kabupaten Berbek “cikal bakal” Kabupaten Nganjuk sekarang ini. Dikatakan “cikal bakal” karena ternyata kemudian bahwa alur sejarah kabupaten Nganjuk adalah berangkat dari keberadaan Kabupaten Berbek dibawah kepemimpinnan Radeen Toemenggoeng Sosrokoesoemo tepatnya daerah Berbek mulai menjadi suatu daerah yang berstatus kabupaten, kiranya masih sulit diungkapkan. Namun dari silsilah keluarga dan catatan ”Peninggalan Kepurbakalaan Kabupaten Nganjuk” tulisan Drs. Subandi, dapat diketahui bahwa bupati Berbek yang pertama adalah KRT. Sosrokoesoemo 1 terkenal dangan sebutan Kanjeng Jimat.Pada masa pemerintahanya dapat diselesaikan sebuah bangunan masjid yangbercorak hinduistis yang bernama masjid yoni Al Mubaarok. Terdapat sinengkalan huruf arab berbahasa jawa yang berbunyi Bagian depan Ratu Pandito Tata Terus 1759 Bagian Bawah Ratu Nitih Buto Murti1758 Kanan/kiri Ratu Pandito Tata Terus 1759 Belakang Ratu Pandito Tata Terus 1759 Kanjeng Raden Toemenggoeng SosrodirdjoSetelah KRT Sosrokoesoemo meninggal dunia tahun 1760 Leno Sarosa Pandito Iku, sebagai penggantinya adalah Kanjeng Raden Toemenggoeng Sosrodirdjo. Mendekati tahun 1811, Kabupaten Berbek pecah menjadi 2dua, yaitu Kabupaten Berbek dan Kabupaten Godean. Sebagai bupati Godean adalah Raden Mas Toemenggoeng Sosronegoro menjadi satu komplek dengan masjid al-Mubarok. Makam kanjeng jimat ada pada posisi 6 dari timur. Secara fisik, panjang kijingan makam Secara geografis makam kanjeng jimat berada di desa kacangan atau letak berukuran 2,60 m, lebar 0,90 m, dan tinggi 0,50 m serta tinggi nisan 0,95 m. diutara makam terdapat payung tingkat bagian selatan kijingan terdapat prasasti memakai huruf Arab, namun menggunakan bahasa Jawa yang berbunyi “Punikao Pasarean Kanjeng Ratu Toemenggung Sosro Kusumo”. Selain itu makam ditutup dengan kelambu putih dan kuning 3,40 diberi kerangka dari kayu jati yang berukuran tinggi 2 m dan panjang 3,40 m. Masjid Al Mubarak merupakan salah satu bangunan religi yang mengandung unsur sejarah di Kabupaten Nganjuk. Anda dapat menjumpai masjid ini di kawasan kecamatan Berbek, tepatnya di sebelah barat alun-alun prasasti Sosrokusumo yang ada di dinding Masjid disebutkan bahwa Masjid ini telah didirikan pada tahun 1745 Masehi. Masjid Al Mubarak ini memiliki ciri khas arsitektur yang kental dengan unsur Jawa. Berbagai ukiran pada kayu jati memenuhi langit-langit dan mimbar masjid. Bagi sebagian masyarakat Nganjuk kedudukan kanjeng jimat mempunyai arti tersendiri. Beliau orang yang dianggap paling berjasa terhadap keberadaan Nganjuk selanjutnya. Makam kanjeng jimat tak pernah sepi dari peziarah, baik siang maupun malam hari. Yang melakukan ziarah, tidak hanya berasal dari Nganjuk, tetapi juga ada yang berasal dari Kediri, Tulungagung, Blitar, Bojonegro, Malang, Madiun, Jombang dan Jimat adalah seorang bupati ke-5 dikadipaten berbek dan sebagai bupati pertama di kabupaten Nganjuk. Kanjeng jimat sesuai data dokumen “Surabaya Post” yang dijelaskan pada tahun 1930, adalah putra menantu sultan Agung Mataram yang sangat gigih dalam menentang penjajah Belanda. Sumber

Terkaitsilsilah Habib Rizieq Shihab, banyak orang yang bertanya-tanya apakah benar ia adalah keturunan Nabi Muhammad saw. atau bukan. Jika dilihat dari silsilahnya, ternyata Habib Rizieq Shihab merupakan keturunan ke-38. Menurut Ketua Lembaga Pencatatan Nasab Maktab Addaimi, Rabithah Alawiyah, Ustadz Ahmad Alatas, berikut ini silsilahnya:

Kompleks makam Kanjeng Jimat. Foto FebriyantoTRENGGALEK - Keberadaan Kabupaten Trenggalek Jawa Timur tidak bisa dilepaskan dari pendiri-pendirinya di jaman dulu. Salah satunya Bupati pertama Trenggalek bernama Raden Mangun Negoro. Berdasar silsilah, Bupati Mangun Negoro masih trah Kerajaan Mataram karena keturunan sunan Paku Buwono garis keturunan ini, Bupati Mangun Negoro memiliki keturunan Bupati Trenggalek selanjutnya. Bahkan ada keturunannya yang menjadi Bupati Nganjuk, Tulungagung hingga Ponorogo. Dari silsilah Paku Buwono I juga satu garis keturunan dengan mangun Negoro yang yang menjadi Bupati Mojokerto dan Kepala Seksi kebudayaan Dinas pendidikan dan kebudayaan Trenggalek Agus Pramono, Bupati Mangun Negoro meninggal pada 1842. Bupati ini memiliki peran saat menyembunyikan putra Pangeran Diponegoro ketika sang pangeran dan keluarganya dikejar Kolonial Belanda dalam Perang kisah disebutkan Agus, Bupati mangun Negoro lantas mengambil putra Pangeran Diponegoro menjadi menantu. Ialah yang pada kemudian hari menurunkan bupati-bupati Trenggalek pada masa itu. Selain itu, Bupati Mangun Negoro oleh masyarakat Trenggalek dijuluki sebagai Kanjeng Jimat. Hal ini tidak mengherankan sebab bagi masyarakat Jawa Timur, bupati yang memiliki kelebihan akan mendapatkan gelar kanjeng Jimat, seperti halnya Mangun Mangun Negoro memang berjasa besar bagi Trenggalek. Menurut sejarah yang dituturkan Agus, dulunya Trenggalek sempat akan dihapus oleh Belanda. Namun begitu Bupati Kalangbret R Mangun Dirono sempat meminta Mangun Negoro untuk mempertahankan Trenggalek. Jika upayanya berhasil Trenggalek akan dipertahankan dan ia berhak menjabat pimpinan wilayah Kanjeng Jimat sendiri saat ini menjadi jujugan peziarah dalam wisata religi. Makamnya berada di Ngulan Kulon Pogalan Trenggalek. Letaknya berada di atas bukit dengan ketinggian sekitar 80 menuju makan, pengunjung harus menaiki ratusan anak tangga dengan sudut kemiringan sekitar 50-60 derajat. Selain makam Bupati Mangun Negoro dan dua istrinya yang dipercaya salah satunya merupakan wanita Belanda, dalam kompleks cungkup makam juga ada peristirahatan terakhir Bupati Trenggalek selanjutnya yang juga keturunan Kanjeng Jimat, yakni Bupati R Mangun Dirdjo. R-7

ad6n46y.
  • dwm2hgcsa7.pages.dev/274
  • dwm2hgcsa7.pages.dev/10
  • dwm2hgcsa7.pages.dev/323
  • dwm2hgcsa7.pages.dev/323
  • dwm2hgcsa7.pages.dev/346
  • dwm2hgcsa7.pages.dev/71
  • dwm2hgcsa7.pages.dev/84
  • dwm2hgcsa7.pages.dev/145
  • dwm2hgcsa7.pages.dev/378
  • silsilah keturunan kanjeng jimat nganjuk